Arsip
Artikel

Oleh: Renal Rinoza Kasturi dan Choiril Chodri

 

Opening title film Naga Yang Berjalan Di Atas Air

Awal bulan Juli 2012 tepatnya hari Senin, 2 Juli 2012 film Naga Yang Berjalan Di Atas Air secara perdana diputar di luar kota tepatnya di Desa Surawangi, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Pemutaran film ini tak terlepas dari dukungan kawan-kawan dari Jatiwangi Art Factory (JAF) yang memfasilitasi agenda pemutaran film Naga Yang Berjalan Di Atas Air. Agenda pemutaran film Naga Yang Berjalan Di Atas Air di Jatiwangi diwakili oleh Renal dan Choiril Chodri dari Komunitas Djuanda sebagai bagian dari program road show pemutaran film Naga Yang Berjalan Di Atas Air yang telah kami agendakan  jauh-jauh hari. Sehari sebelum pemutaran, terlebih dahulu kami tiba di Jatiwangi pada malam jelang laga final Piala Eropa 2012 yang mempertandingkan kesebelasan Spanyol dan Italia. Namun kami tidak menyaksikan sepenuhnya laga final Piala Eropa 2012 karena rasa kantuk yang mendera dan akhirnya kami pun istirahat sehabis merasakan perjalanan dari Jakarta menuju Jatiwangi yang melelahkan.

Lanjut Baca

Oleh: Renal Rinoza Kasturi

Film Naga Yang Berjalan Di Atas Air adalah film feature dokumenter panjang yang berduruasi hampir dua jam lamanya. Film ini diproduksi atas kerjasama kolaborasi antara Forum Lenteng dengan Komunitas Djuanda sebagai bagian dari program up-grading akumassa yang telah berjalan selama dua tahun. Proses perekaman film dilakukan di Desa Babakan, Pocis, Kota Tangerang Selatan. Pembuatan film ini memakan waktu sekitar hampir 3 bulan terhitung akhir bulan November 2011 dan pertengahan bulan Februari 2012.

Film Naga Yang Berjalan Di Atas Air bukan hanya sebuah upaya untuk memberikan informasi, melainkan menjadi semacam penggalan kronik sejarah sosial Kota Tangerang Selatan. Di samping itu, juga merintis perekaman sosiokultural masyarakatnya. Ide pembuatan film ini melalui proses yang alot, sehingga terpilihlah ide mengenai kehidupan di sebuah klenteng yang berada di pinggiran Kota Tangerang Selatan. Pengambilan ide ini didasari satu alasan yang kuat, bahwa denyut nadi Kota Tangerang Selatan tak terlepas dari aspek budayanya. Hematnya, ada tiga aspek budaya yang memperkuat Tangsel dan Tangerang Raya secara keseluruhan, yakni budaya Betawi, Sunda dan Tionghoa. Dari ketiga etnis ini terjadi saling kontak dan akulturasi. Dalam perkembangannya, melahirkan sebuah subkultur yang khas di daerah Tangerang termasuk Kota Tangerang Selatan. Corak akulturatif ini memperkaya dan memberikan ornamen budaya yang khas di kota tersebut.

Lanjut Baca

Peluncuran filem dokumenter Naga Yang Berjalan Di Atas Air

Orang-orang begitu antusias untuk hadir di acara peluncuran filem dokumenter Naga Yang Berjalan Di Atas Air. 130 kursi  yang ada di dalam studio 2 bioskop XXI, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, habis tak tersisa. Buat mereka yang tidak kebagian, tetap rela duduk di tangga-tangga studio. Termasuk aku, yang menyaksikan filem berdurasi 115 menit ini dari awal hingga akhir.

Lanjut Baca

Klenteng Bio Kanti Sara

Naga Yang Berjalan Di Atas Air itulah judul film feature dokumenter yang kami produksi ini. Judul tersebut tercetus tatkala makan siang sehabis syuting di Restoran Padang di pinggir jalan Siliwangi Raya, Desa Bhakti Jaya, Kecamatan Setu Kota, Tangerang Selatan yang tak jauh tempatnya dari lokasi kami syuting. Penamaan judul Naga Yang Berjalan Di Atas Air adalah sebuah tamsil metaforik untuk menggambarkan sosok tokoh utama dalam film ini yakni, Kang Sui Liong.

Lanjut Baca