Peluncuran Filem Naga Yang Berjalan Di Atas Air, Toleransi dan Keharmonisan

Peluncuran filem dokumenter Naga Yang Berjalan Di Atas Air

Orang-orang begitu antusias untuk hadir di acara peluncuran filem dokumenter Naga Yang Berjalan Di Atas Air. 130 kursi  yang ada di dalam studio 2 bioskop XXI, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, habis tak tersisa. Buat mereka yang tidak kebagian, tetap rela duduk di tangga-tangga studio. Termasuk aku, yang menyaksikan filem berdurasi 115 menit ini dari awal hingga akhir.

 

Para pengunjung mengisi buku tamu sebelum masuk ke dalam studio

Kursi bioskop penuh, beberapa penonton berdiri

Semua khidmat menyaksikan informasi yang tersaji dari filem Naga Yang Berjalan Di Atas Air. Namun, sesekali mereka tertawa karena aksi atau ucapan jenaka yang terlontar dari pribadi Kang Sui Liong, tokoh utama dalam filem dokumenter tersebut. Misalnya dalam sebuah tayangan, Kang Sui Liong bercerita tentang kisah masa mudanya. Dengan percaya diri ia mengatakan, “Dulu saya suka ngibing (joget) kalo ada Cokek.”

Kang Sui Liong merupakan peranakan Cina Benteng yang secara turun temurun tinggal di Pamulang, Tangerang Selatan untuk mengasuh sebuah klenteng bernama Bio Kanti Sara. Sejatinya, asimilasi kebudayaan antara Tionghoa, Betawi dan Sunda memang sudah bercampur baur dalam perilakunya. Jadi benar saja jika ia bercerita sedikit tentang kegemarannya yang suka ngibing dalam pagelaran Cokek pada saat itu.

Filem yang diproduksi Forum Lenteng dan Komunitas Djuanda ini memang ingin menghadirkan informasi untuk menjembatani kesepahaman bersama terkait perpaduan budaya dengan mengambil sampel kehidupan sebuah klenteng di Tangerang Selatan. Sejatinya, perpaduan berbagai macam budaya itulah yang telah menghidupi klenteng tersebut bersama masyarakatnya yang telah lebur bersamaan dengan berjalannya waktu.

Kemudian dalam salah satu scene, filem itu menghadirkan sepenggal informasi tentang hiruk pikuk masa runtuhnya Orde Baru (Orba). Misalkan, ungkapan  seorang jemaat bernama David, pengusaha yang biasa beribadat di klenteng Bio Kanti Sara. Ia bercerita, pada masa itu banyak etnis Tionghoa yang menjadi korban amukan massa tanpa alasan yang jelas, termasuk dirinya. Ia mengaku pernah memiliki toko beras yang dibakar oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Menariknya, para pelaku pembakaran adalah orang-orang yang tidak dikenal. “Pelakunya bukan masyarakat sekitar, saya berhubungan baik dengan mereka.Tapi sudahlah, emang bukan rejeki.”

Aku jadi teringat pengalamanku di tahun 1998. Di masa yang sedang carut-marut itu, aku dan ayahku pernah melalui sebuah jalur di daerah Semanggi, Jakarta Selatan. Entah kenapa, tiba-tiba belasan pemuda dengan berbaju bebas menghentikan laju mobil yang kami kendarai. Mereka memaksa kita turun, karena mobil akan dibakar. Sontak, ayahku dengan wajah melas, memohon agar kami dibiarkan terus melaju dengan alasan ada seorang anak kecil. Waktu itu umurku sekitar, delapan tahun. Kemudian mereka diam sejenak. Tanpa basa-basi, ayahku langsung tancap gas, tanpa menunggu keputusan dari mereka. Waktu itu aku belum mengerti apa yang sedang terjadi, hingga akhirnya aku tersadar tentang perawakan kami seperti orang Tionghoa. Padahal, kami berasal dari Lampung yang memiliki raut wajah seperti orang Cina, sama halnya dengan orang-orang dari Palembang.

Selanjutnya, filem yang disutradarai Otty Widasari berkolaborasi dengan Komunitas Djuanda ini juga menghadirkan informasi tentang kehidupan lintas agama yang dijalani Kang Sui Liong dan masyarakatnya. Pada gambar-gambar itu aku bisa melihat,  kehidupan beragama terjalin dengan harmonis di lingkungan Babakan Pocis, Pamulang, Tangerang Selatan. Seperti tayangan silaturahmi Kang Sui Liong ke rumah tetangga yang beragama Kristen dan Islam. Jelas terlihat, hubungan di antara mereka terjalin begitu intim tanpa mempermasalahkan perbedaan keyakinan. Bahkan Kang Sui Liong dinilai termasuk salah satu aktifis agama oleh tetangganya yang Kristen.

Namun, permasalahan yang kini dihadapi Kang Sui Liong adalah siapa yang akan jadi penerusnya. Berhubung umurnya yang sudah tidak muda lagi, tentu ia berharap salah satu anaknya dapat meneruskan pengabdian nenek moyangnya kepada Klenteng Bio Kanti Sara dan meneruskan tradisi yang diwariskan para leluhur.

Penilaiannya tertuju pada Ari, anak laki-lakinya dari istri ketiga yang masih sekolah jenjang SMP. Tapi sepertinya ia tidak mau terlalu memaksa kehendaknya itu. Ia masih membebaskan anaknya  untuk memilih kepercayaan. Ia tidak mau memaksa Ari untuk menganut Budha seperti yang diyakininya atau menganut Islam seperti yang diyakini ibunya. Namun besar harapan, Ari akan meneruskan pengabdian itu. Karena, Kang Sui Liong melihat banyak tanda dari Ari yang mengarah ke untuk mengabdi pada klenteng.

Keluarga Kang Sui Liong hadir di tengah-tengah penonton

Secara keseluruhan, aku mendapat begitu banyak informasi tentang kearifan hidup dari seorang Kang Sui Liong dalam filem Naga Yang Berjalan Di Atas Air. Menurutku, Ia bukan hanya seorang pengabdi yang melayani umat di klenteng Bio Kanti Sara, tapi juga bisa menjadi guru yang baik untuk memahami kehidupan yang toleran dalam berkeluarga dan bermasyarakat.

Kang Sui Liong menyapa para penonton

Keluarga Kang Sui Liong berpose bersama beberapa penonton

115 menit telah habis, lampu studio dihidupkan. Panitia berdiri dan terus mengucapkan rasa terima kasih atas kehadiran penonton pada pagi hari itu. Tampak ketua Forum Lenteng, Hafiz memperkenalkan keluarga Kang Sui Liong. Para penontonpun memberi tepuk tangan yang meriah, hal ini dilakukan untuk memberi apresiasi kepada para pembuat filem dokumenter. Selanjutnya, satu per satu penonton meninggalkan studio, termasuk aku. Kali ini, aku pulang membawa pengetahuan baru, tentang perpaduan berbudaya dan beragama yang menjadi harmoni.

Sumber:

http://akumassa.org/kontribusi/dki-jakarta/peluncuran-filem-naga-yang-berjalan-di-atas-air-toleransi-dan-keharmonisan/

Kirim komentar